Parigi Moutong Rekrut 30 Tagana Angkatan 2026
- By REDAKSI --
- Monday, 24 Aug, 2026
PARIGI MOUTONG, SARARAMEDIA.ID - Penguatan kapasitas masyarakat menghadapi ancaman bencana terus dilakukan di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sebanyak 30 orang resmi mengikuti proses pembentukan dan pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Angkatan 2026 yang dilaksanakan melalui kolaborasi Kementerian Sosial (Kemensos), Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Tengah dan Dinas Sosial Kabupaten Parigi Moutong.
Kegiatan yang dipusatkan di Kecamatan Torue tersebut tidak hanya berorientasi pada penambahan jumlah personel relawan, tetapi diarahkan untuk mencetak sumber daya manusia yang memiliki kompetensi dasar penanggulangan bencana. Agenda tersebut sekaligus dirangkaikan dengan pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) sebagai bagian dari penguatan kesiapsiagaan berbasis masyarakat.
Komposisi peserta pun cukup beragam. Selain masyarakat umum, proses rekrutmen melibatkan unsur pecinta alam, organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga aparatur pemerintah. Sejumlah pejabat di lingkungan pemerintahan turut mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembekalan, pelatihan, pembaretan hingga prosesi Abdi Negeri.
Di antara peserta tersebut terdapat Camat Torue, Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Sekretaris Dinas Sosial serta Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial (Linjamsos). Mereka menjalani tahapan pembentukan bersama peserta lainnya sebagai bagian dari proses membangun kesamaan kapasitas, kedisiplinan dan semangat kerelawanan dalam menghadapi situasi kebencanaan.
Dalam proses pembekalan, para peserta mendapatkan materi yang berkaitan langsung dengan kebutuhan penanganan keadaan darurat. Sedikitnya terdapat lima kemampuan dasar Tagana yang menjadi fokus pelatihan, yakni evakuasi, manajemen posko, Dapur Umum Lapangan (Dumlap), Layanan Dukungan Psikososial (LDP), serta pengelolaan logistik kebencanaan.
Kelima kompetensi tersebut menjadi modal dasar bagi personel Tagana untuk menjalankan tugas kemanusiaan secara terarah, baik pada fase tanggap darurat maupun dalam mendukung tahapan penanggulangan bencana lainnya.
Koordinator Tagana Kabupaten Parigi Moutong, Irwan Basri, mengatakan penambahan personel baru menjadi kebutuhan yang cukup penting mengingat jumlah Tagana aktif di daerah tersebut saat ini relatif terbatas.
Menurut Irwan, kondisi itu salah satunya dipengaruhi oleh sejumlah personel Tagana yang sebelumnya telah mendapatkan pelatihan dan memiliki pengalaman di lapangan, kemudian diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) dan menjalankan tugas pada berbagai instansi pemerintahan.
"Perekrutan Tagana angkatan 2026 ini dilakukan karena kita memang membutuhkan tambahan personel. Jumlah Tagana yang aktif saat ini sudah sangat terbatas, sementara sebagian personel yang sebelumnya terlatih telah menjadi PPPK dan bertugas di instansi lain," ujar Irwan, Senin siang, (24/8/2026) waktu setempat.
Ia menjelaskan, status baru para mantan personel Tagana tersebut tidak serta-merta menghilangkan kepedulian maupun pengalaman mereka dalam bidang kebencanaan. Namun, beban tugas kedinasan pada instansi masing-masing membuat proses mobilisasi dalam kegiatan Tagana tidak lagi dapat dilakukan secara optimal.
"Mereka tetap memiliki semangat dan pengalaman dalam penanggulangan bencana. Hanya saja, setelah memiliki tugas dan tanggung jawab pada instansi masing-masing, tentu ada keterbatasan ketika harus digerakkan dalam kegiatan Tagana. Karena itu, kita harus menyiapkan kader-kader baru," jelasnya.
Irwan menegaskan, perekrutan 30 personel baru tidak boleh dimaknai sebatas upaya memenuhi kebutuhan jumlah anggota. Lebih dari itu, proses pembentukan Tagana diarahkan untuk menghasilkan relawan yang siap bekerja dalam kondisi darurat dan mampu mengambil peran sesuai kompetensi yang dimiliki.
Karena itu, peserta tidak hanya mendapatkan materi teknis kebencanaan. Aspek kedisiplinan, kemampuan bekerja dalam tim, kepemimpinan di lapangan serta pembentukan karakter dan jiwa kerelawanan turut menjadi bagian dari proses pembekalan.
"Kita tidak ingin hanya mengejar jumlah. Yang paling penting adalah membentuk personel yang memiliki kompetensi, kesiapsiagaan dan kepedulian. Tagana harus hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, terutama dalam situasi darurat," katanya.
Di sisi lain, pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) Kecamatan Torue menjadi bagian penting dalam strategi memperkuat kesiapsiagaan masyarakat dari tingkat paling bawah.
KSB diharapkan mampu mendorong masyarakat mengenali potensi ancaman bencana di wilayahnya sekaligus membangun kemampuan mitigasi, kesiapsiagaan, evakuasi dan penanganan awal ketika bencana terjadi. Kelompok masyarakat juga diharapkan mampu memberikan perhatian khusus terhadap kelompok rentan yang membutuhkan dukungan saat kondisi darurat.
Irwan menilai keberadaan Tagana dan KSB memiliki fungsi yang saling melengkapi. Tagana membawa kapasitas serta pengalaman dalam penanganan kebencanaan, sementara KSB menjadi kekuatan masyarakat yang berada langsung di wilayah rawan.
"KSB dan Tagana harus saling memperkuat. Tagana memiliki kapasitas dan pengalaman dalam penanganan bencana, sedangkan KSB menjadi kekuatan masyarakat di tingkat desa. Kalau keduanya berjalan bersama, respons terhadap bencana akan lebih cepat dan terkoordinasi," ungkapnya.
Menurut dia, pola penanggulangan bencana yang kuat tidak hanya bergantung pada kesiapan pemerintah dan relawan, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk memahami risiko serta mengambil tindakan cepat sebelum bantuan eksternal tiba.
Kehadiran Tagana Angkatan 2026 bersama pembentukan KSB Kecamatan Torue diharapkan menjadi momentum memperluas jejaring relawan kebencanaan di Kabupaten Parigi Moutong.
Regenerasi dinilai penting karena kondisi bencana tidak mengenal waktu maupun tempat. Dengan semakin banyaknya masyarakat yang memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar kebencanaan, kapasitas daerah dalam menghadapi keadaan darurat diharapkan semakin kuat.
"Harapan kita, Tagana angkatan 2026 ini dapat menjadi generasi penerus yang siap membantu masyarakat. Bencana tidak mengenal waktu, sehingga kesiapan personel dan masyarakat juga harus dibangun setiap saat. Inilah semangat Tagana, hadir untuk membantu dan peduli kepada sesama". pungkas Irwan. (***)
