Dialog Kepemimpinan FKIP Untad, Hadianto Tekankan Integritas dan Pendidikan

PALU, SARARAMEDIA.ID - Kepemimpinan tidak cukup bermodal keberanian menduduki jabatan. Integritas, keteguhan niat, dan kesadaran untuk mempertanggungjawabkan kekuasaan menjadi bekal penting bagi seseorang yang ingin memimpin.

Pesan itu disampaikan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid, saat menjadi narasumber utama dalam Dialog Kepemimpinan bersama mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Tadulako (Untad), di Aula FKIP Untad, Palu, Sabtu siang, (24/10/2026) waktu setempat.

Dialog yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FKIP Untad tersebut mengangkat tema “Dari Kesadaran Menuju Keberanian Memimpin”. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa untuk memahami kepemimpinan, tanggung jawab, serta kesiapan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

Di hadapan peserta, Hadianto menekankan bahwa kekuasaan, dalam perspektif keagamaan, merupakan milik Allah SWT. Karena itu, jabatan harus dipahami sebagai amanah, bukan semata-mata tujuan yang dikejar untuk memperoleh kedudukan atau pengaruh.

"Kalau kalian mau menjadi pemimpin, satu hal yang harus diketahui adalah siapa pemilik kekuasaan itu. Allah yang memiliki kerajaan dan kekuasaan, serta memberikan kekuasaan kepada siapa yang dikehendaki-Nya," ujar Hadianto.

Menurut dia, kesadaran tersebut perlu menjadi landasan moral bagi calon pemimpin dalam menentukan sikap dan mengambil keputusan. Kekuasaan semestinya digunakan untuk menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan sekadar memenuhi kepentingan pribadi.

Ia juga mengingatkan mahasiswa agar meluruskan niat sebelum menerima tanggung jawab kepemimpinan. Dengan mengutip ajaran Rasulullah SAW mengenai pentingnya niat dalam setiap amal perbuatan, Hadianto menegaskan bahwa tujuan seseorang akan memengaruhi cara menjalankan amanah.

"Kalau kalian mau menjadi pemimpin, maka kembali kepada niatnya. Niat itu yang harus diluruskan, karena dari situlah kita menentukan bagaimana menjalankan amanah yang diberikan," katanya.

Selain integritas dan landasan spiritual, Hadianto menilai kedalaman pemahaman menjadi faktor penting dalam membentuk kualitas kepemimpinan. Mahasiswa, menurut dia, tidak cukup hanya mengandalkan teori atau pengetahuan yang diperoleh dari literatur, tetapi perlu mendalami ilmu dan pengalaman agar mampu membaca persoalan secara lebih utuh.

"Semakin dalam kalian memahami sesuatu, semakin besar pula yang bisa kalian dapatkan. Dengan begitu, semakin besar bekal yang kalian miliki untuk menghadapi masa depan," ujarnya.

Ia berpandangan bahwa kekuasaan dapat menghasilkan dampak positif maupun negatif, bergantung pada karakter, keimanan, dan cara seseorang menggunakannya. Oleh sebab itu, penguatan moral harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas intelektual dan kemampuan mengambil keputusan.

Dalam dialog tersebut, Hadianto juga menempatkan mahasiswa sebagai generasi yang kelak akan mengambil peran dalam kepemimpinan di berbagai bidang. Ia berharap pengalaman pemerintahannya dapat menjadi bahan pembelajaran bagi generasi muda untuk menilai, memperbaiki, dan mengembangkan praktik kepemimpinan.

"Saya hari ini mungkin belum bekerja dengan baik, tetapi saya terus berusaha untuk bekerja dengan baik sehingga apa yang saya lakukan bisa menjadi acuan bagi kalian," tuturnya.

Di lingkungan perguruan tinggi, Hadianto mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan antara aktivitas organisasi dan tanggung jawab akademik. Keterlibatan dalam kelembagaan mahasiswa dinilai penting untuk melatih kepemimpinan, kerja sama, serta kemampuan mengelola tanggung jawab. Namun, aktivitas tersebut tidak boleh mengesampingkan proses belajar.

"Jangan hanya kuat di kelembagaan, tetapi juga harus kuat di kelas. Kalian adalah generasi penerus, sehingga harus mempersiapkan diri dengan baik dan menyelesaikan pendidikan sesuai waktunya," tegasnya.

Ia juga mengingatkan agar mahasiswa tidak semata-mata menjadikan angka atau capaian akademik sebagai ukuran keberhasilan. Prestasi tetap penting, tetapi harus disertai kesungguhan menjalani proses pendidikan, pengembangan kompetensi, dan pembentukan karakter.

Melalui dialog ini, mahasiswa FKIP Untad diharapkan mampu memaknai kepemimpinan sebagai proses panjang yang menuntut kesiapan intelektual, kematangan moral, serta keberanian memikul tanggung jawab.

Pesan yang mengemuka dari pertemuan tersebut ialah bahwa keberanian memimpin perlu dibangun di atas kesadaran, integritas, dan kemauan untuk terus belajar. Dengan bekal itu, generasi muda diharapkan tidak hanya siap menduduki posisi kepemimpinan, tetapi juga mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, daerah, dan bangsa. (Hms)


Comment As:

Comment (0)