Panen Padi PM-AAS di Sidondo II untuk Perkuat Swasembada Pangan
SIGI, SARARAMEDIA.ID - Upaya meningkatkan produktivitas padi di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, terus diarahkan pada penerapan metode budidaya yang terukur, pendampingan penyuluh, serta dukungan sarana produksi pertanian. Salah satu upaya tersebut terlihat dalam panen padi sawah pada lahan percontohan atau demplot dengan metode PM-AAS (Pertanian Modern-Advanced Agriculture System) di Desa Sidondo II, Kecamatan Sigi Biromaru, Kamis pagi, (22/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lahan demplot Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Biromaru, tepatnya di Dusun Deasi, itu dilaksanakan di atas lahan seluas satu hektare. Berdasarkan keterangan dalam kegiatan tersebut, hasil pengambilan sampel ubinan mencapai 12,4 ton, yang dipaparkan sebagai capaian dari penerapan metode budidaya tersebut.
Hasil itu menjadi bahan evaluasi sekaligus rujukan bagi penyuluh dan kelompok tani untuk melihat potensi peningkatan produksi melalui penerapan teknologi budidaya. Namun, capaian ubinan perlu dibaca sesuai satuan pengukuran dan luas sampel yang digunakan sebelum dibandingkan dengan produktivitas panen per hektare.
Perwakilan CWS (Co-Working Space) Kabupaten Sigi, Muhammad Arsyad, yang hadir mewakili Ketua Tim Kerja, mengatakan metode PM-AAS diharapkan dapat diterapkan lebih luas apabila kondisi pendukung di lapangan memungkinkan, terutama ketersediaan air irigasi.
Menurut Arsyad, produktivitas yang selama ini berada pada kisaran lima hingga enam ton berpotensi meningkat menjadi sembilan hingga sepuluh ton melalui penerapan pola budidaya tersebut. Ia juga menyebut hasil ubinan di lokasi demplot mencapai 12,4 ton.
Arsyad meminta penyuluh pertanian bersama kelompok tani terus mengawal penerapan metode itu, termasuk memantau pelaksanaannya di lapangan. Ia menilai hasil percontohan perlu ditindaklanjuti melalui pendampingan agar penerapan teknologi tidak berhenti pada kegiatan demonstrasi atau panen semata.
Dukungan sarana produksi turut menjadi perhatian dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian. Perwakilan Pupuk Kaltim Indonesia, Sunardi, yang bertugas sebagai agronomis MOT Uji Tanah, menyatakan perusahaan berperan sebagai mitra strategis dalam mendukung program Kementerian Pertanian, termasuk penerapan metode PM-AAS.
Sunardi menjelaskan, sinergi dengan Kementerian Pertanian juga mencakup sosialisasi petunjuk teknis terbaru dan penguatan pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi agar distribusinya lebih tepat sasaran, baik dari sisi penerima maupun jumlah yang diterima.
Ia berharap kebijakan penurunan harga pupuk bersubsidi sebesar 20 persen yang disebutnya dalam wawancara dapat membantu petani memperoleh sarana produksi dengan biaya lebih terjangkau, sehingga mendukung peningkatan semangat dan produktivitas usaha tani.
Sementara itu, Koordinator BPP Sigi Biromaru, Abdul Gani Rafid, menekankan pentingnya peran penyuluh dalam mengawal program pertanian. Salah satu upaya yang perlu diperkuat ialah memastikan petani yang memenuhi persyaratan terdata melalui mekanisme Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), sebagai bagian dari proses pengusulan kebutuhan pupuk bersubsidi.
Pendataan yang akurat diharapkan membantu penyaluran bantuan dan sarana produksi sesuai kebutuhan kelompok tani. Dengan demikian, dukungan program pemerintah dapat berjalan seiring dengan pendampingan teknis dan pengawasan di tingkat lapangan.
Pada kesempatan yang sama, Pemerintah Daerah Kabupaten Sigi melalui Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan, Moh. Afit Lamakarate, menekankan pentingnya pembenahan pendataan dan pengusulan kebutuhan petani secara terpadu.
Ia meminta penyuluh menyusun daftar kebutuhan kelompok tani secara terperinci, mulai dari alat dan mesin pertanian, benih, hingga sarana produksi lain yang diperlukan. Setiap usulan, kata dia, perlu tercatat dan dievaluasi secara berkala untuk mengetahui kebutuhan yang telah terpenuhi maupun yang masih menunggu tindak lanjut.
Afit juga menggarisbawahi pentingnya interaksi langsung antara penyuluh dan anggota kelompok tani. Penyuluh, menurut dia, perlu mengetahui kondisi wilayah kerja, lokasi lahan, persoalan yang dihadapi petani, serta kebutuhan nyata di lapangan sebelum menyusun program pendampingan.
Ia mengingatkan, kegiatan seremonial, pertemuan, penanaman, dan panen harus bermuara pada sasaran yang lebih substantif, yakni peningkatan produksi dan produktivitas pertanian serta pencapaian target luas tambah tanam (LTT).
Dalam paparannya, Afit turut menyoroti perlunya sinkronisasi data lahan baku sawah (LBS) antara kondisi aktual di lapangan dan data yang digunakan dalam perencanaan maupun pelaporan. Menurut dia, ketepatan data menjadi salah satu prasyarat agar target pertanian dapat disusun secara realistis dan pelaksanaannya terukur.
Ia juga menyampaikan bahwa keterbatasan air akibat musim kering masih menjadi tantangan bagi kegiatan pertanian di sejumlah wilayah Sigi. Berkurangnya debit air, termasuk pada sistem irigasi Gumbasa, berpengaruh terhadap kemampuan petani mengolah dan menanami lahan.
Karena itu, upaya peningkatan produksi tidak cukup hanya bertumpu pada metode budidaya. Ketersediaan air, dukungan sarana produksi, pendampingan penyuluh, dan ketepatan data harus berjalan beriringan agar hasil yang dicapai dapat dipertahankan.
Panen demplot PM-AAS tersebut dihadiri perwakilan Pupuk Kaltim Indonesia, CWS Kabupaten Sigi, penyuluh pertanian, kelompok tani, serta mahasiswa magang Universitas Tadulako Palu dari jurusan pertanian. Kegiatan ini menjadi ruang evaluasi lapangan sekaligus pertukaran informasi mengenai penerapan metode budidaya padi.
Ke depan, hasil demplot diharapkan dapat menjadi bahan pembelajaran bagi petani dan penyuluh dalam menentukan pola budidaya yang sesuai dengan kondisi lahan. Penerapannya tetap perlu mempertimbangkan ketersediaan air, karakteristik lahan, penggunaan sarana produksi, serta hasil pengukuran panen yang dapat diverifikasi.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, perusahaan pupuk, dan kelompok tani, peningkatan produktivitas padi diharapkan dapat mendukung upaya mewujudkan swasembada pangan Nasional sekaligus memperkuat keberlanjutan usaha tani di Kabupaten Sigi. (***)
