ESDM Tegaskan Area Longsor Kayuboko Rawan, Aktivitas Tambang Dibatasi

PALU, SARARAMEDIA.ID - Tim dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Sulawesi Tengah melakukan tinjauan lapangan di Wilayah Pertambangan Rakyat (WPR) Kayuboko menyusul insiden longsor yang menewaskan seorang pendulang tradisional.

Kepala Bidang Mineral dan Batubara Dinas ESDM, Sultanisah, menyampaikan duka cita atas peristiwa tersebut saat dikonfirmasi di Palu, Jumat (20/2/2026).

Tim ESDM tiba di lokasi sekitar pukul 16.00 WITA dan langsung berkoordinasi dengan pihak koperasi serta keluarga korban. Di lokasi, tim bertemu dengan pengurus koperasi, Guntur, serta Ansar yang merupakan sepupu korban.

Berdasarkan hasil penelusuran, korban diketahui bernama Mama Ida (sekitar 50 tahun), warga Desa Air Panas. Peristiwa terjadi sekitar pukul 15.00 WITA saat korban berteduh di bawah tebing bekas aktivitas Penambangan Tanpa Izin (PETI) yang berada di Blok III WPR Kayuboko.

Tanpa disadari korban, kondisi lereng di area tersebut tidak stabil. Longsoran tiba-tiba terjadi dan menimbun korban hingga tidak sempat menyelamatkan diri.

Pasca kejadian, keluarga korban yang berada tidak jauh dari lokasi segera meminta bantuan warga dan pihak koperasi untuk melakukan evakuasi. Proses awal dilakukan menggunakan alat berat jenis excavator untuk menentukan titik korban, kemudian dilanjutkan dengan penggalian manual oleh keluarga dan warga setempat.

Sultanisah menjelaskan, korban diketahui kerap melakukan pendulangan tradisional bersama keluarga di kawasan WPR Kayuboko. Namun, korban bukan merupakan anggota koperasi pemegang Izin Pertambangan Rakyat (IPR).

Ia menambahkan, koperasi setempat sebenarnya telah membentuk satuan tugas internal dan beberapa kali memberikan peringatan kepada masyarakat agar tidak beraktivitas di area yang dinilai berbahaya, termasuk lokasi kejadian.

Saat ini, aktivitas di Blok III Kayuboko hanya berupa eksplorasi atau pengambilan sampel untuk penentuan titik tambang, dengan jarak sekitar 15 hingga 20 meter dari lokasi longsor.

Selain warga Desa Kayuboko dan Air Panas, terdapat pula pendulang dari Pelawa, Olo Baru, Petapa, Parigimpu, serta daerah lain di Pantai Timur dan Pantai Barat Sulawesi Tengah. Aktivitas pendulangan dilakukan secara berkelompok, berkisar dua hingga enam orang, umumnya di area bekas PETI.

Pihak koperasi telah menyampaikan laporan dan klarifikasi tertulis kepada Dinas ESDM serta memberikan santunan tali asih kepada keluarga korban, yang diserahkan langsung kepada Ansar.

Secara teknis, titik longsor berada di sisi timur bagian dalam Blok III WPR Kayuboko. Tebing di lokasi tersebut memiliki ketinggian sekitar 15 meter dan tersusun dari material emas aluvial berupa lempung berpasir yang bersifat labil dan rawan longsor.

Sebagai tindak lanjut, Dinas ESDM Sulawesi Tengah telah mengeluarkan sejumlah rekomendasi, antara lain pemasangan rambu peringatan dan garis pembatas di area rawan, imbauan penambangan di zona aman, pengajuan pemetaan topografi berbasis lidar, penataan aktivitas pendulang, pelarangan metode penggalian berlereng curam, serta percepatan proses perizinan IPR guna menjamin keselamatan dan penerapan kaidah pertambangan yang baik (Good Mining Practice). (***)


Comment As:

Comment (0)