Launching DRPPA dan SAPA SIGI, Delapan Desa Jadi Simbol Perubahan
KET. FOTO : Launching Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) Dan Inovasi Sahabat Perempuan dan Anak Sigi (SAPA-SIGI) di Lokasi Taman Hutan Raya (Tahura) Ngatabaru, Sigi Biromaru, Kamis pagi, 26 Juni 2025. (Dok/Ist)
SIGI, Sararamedia.id - Pemerintah Kabupaten Sigi secara resmi melaunching program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) serta inovasi SAPA SIGI (Sahabat Perempuan dan Anak Sigi) dalam sebuah seremoni bertempat di Taman Hutan Raya (Tahura), Desa Ngatabaru, Kecamatan Sigi Biromaru, Rabu pagi (18/6/2025) waktu setempat.
Peluncuran ini diikuti oleh delapan desa percontohan, yaitu Desa Ngatabaru dan Pombewe (Kecamatan Sigi Biromaru), Desa Pesaku dan Rarapadende (Kecamatan Dolo Barat), Desa Wisolo dan Ramba (Kecamatan Dolo Selatan), Desa Lonca (Kecamatan Kulawi) serta Desa Moa (Kecamatan Kulawi Selatan).
Langkah ini merupakan komitmen nyata Pemerintah Kabupaten Sigi bersama Yayasan CARE Peduli dan KARSA Institute dalam mewujudkan pembangunan desa yang adil, inklusif, dan berkelanjutan, dengan menempatkan perlindungan dan pemberdayaan perempuan serta anak sebagai prioritas utama.
Ketua TP-PKK Kabupaten Sigi sekaligus Kabid Pemenuhan Hak Anak Dinas P3A Provinsi Sulawesi Tengah, Siti Halwiah, menyampaikan bahwa program DRPPA merupakan katalisator penting dalam mengarusutamakan isu gender dan perlindungan anak dalam tata kelola desa.
``DRPPA adalah katalisator kesetaraan gender, pemberdayaan ekonomi perempuan, dan pembangunan yang inklusif. Program ini juga mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama pada aspek pendidikan dan kesehatan,`` jelas Halwiah.
Ia menegaskan bahwa gerakan ini tidak boleh berhenti di tataran seremoni semata, melainkan harus menjadi gerakan kolektif lintas sektor.
``Kami memberikan dukungan penuh kepada reformer Ibu Susanti, SKM.,M.A.P, yang saat ini sedang mengikuti Diklat Kepemimpinan Administrator dengan mengusung inovasi SAPA SIGI yang berakar pada pemberdayaan perempuan dan potensi lokal,`` sanjung Halwiah.
Mewakili Bupati Sigi, Sekretaris Daerah, Nuim Hayat menegaskan, bahwa pembentukan DRPPA merupakan langkah strategis Pemda dalam menciptakan desa yang melindungi dan memberdayakan perempuan dan anak. Pemerintah daerah menargetkan pemenuhan 10 indikator utama DRPPA, di antaranya,
Pengarusutamaan gender dan hak anak dalam perencanaan pembangunan desa, keterlibatan perempuan dan anak dalam musyawarah desa, regulasi desa yang mendukung pencegahan kekerasan, penyediaan layanan pengaduan, ruang aman, dan penguatan ekonomi, serta kolaborasi lintas sektor dan dukungan masyarakat.
``Kami berharap penguatan data, regulasi, dan sinergi antarpemangku kepentingan dapat mempercepat pencapaian indikator DRPPA,`` pesan Nuim.
Perwakilan Yayasan CARE Peduli, Renee Picasso, menyebut peluncuran DRPPA sebagai momentum strategis menuju desa yang aman, setara, dan berdaya. Ia menjelaskan bahwa program ini diperkuat dengan pendekatan ekonomi melalui skema Village Saving and Loan Association (VSLA).
``Bersama KARSA Institute, UN Women, dan KOICA, kami membangun fondasi yang berpihak pada perempuan dan anak. Kami juga mendukung kelompok usaha perempuan seperti di Ngatabaru yang mengembangkan inovasi penanaman bawang goreng khas Sigi,`` jelas Renee.
SAPA SIGI: Mengangkat Suara Lokal, Memperkuat Ekonomi Perempuan ✓
Dalam sambutannya, Reformer Diklat PIM Administrator dan Kabid PHP, PKA, dan PHA DP3A Kabupaten Sigi, Susanti, menjelaskan bahwa inovasi SAPA SIGI merupakan pendekatan berbasis kearifan lokal yang menempatkan perempuan sebagai penggerak utama ekonomi keluarga.
``Melalui kerja kolaboratif dengan Kelompok Usaha Bersama Perempuan (KUEP), SAPA SIGI menggali potensi lokal berupa penanaman bawang goreng khas Sigi sebagai simbol ketangguhan ekonomi berbasis desa,`` ungkap Susanti.
Ia menambahkan bahwa program ini tidak hanya berdampak pada pendapatan keluarga, namun juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab, ketangguhan, dan kreativitas kepada anak-anak sejak dini.
``Inisiatif ini menjadi bagian dari komitmen untuk mendukung program Nawacita dan Astacita Presiden, khususnya pada poin penguatan peran perempuan dan kesetaraan gender,`` jelasnya.
Launching ini menandai keberhasilan proses kolaborasi lintas sektor selama lebih dari dua bulan, mulai dari tahapan perencanaan hingga pelaksanaan lima milestone utama.
Susanti menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah, Yayasan CARE Peduli, KARSA Institute, Ketua TP PKK Sigi, serta semua tim internal dan eksternal yang telah mendukung program ini.
``Kami sadar bahwa untuk mencapai pemberdayaan berkelanjutan, dibutuhkan dukungan berkelanjutan. Kami mengajak Pemkab Sigi untuk bersama-sama memperkuat kelompok usaha perempuan melalui bantuan peralatan, pelatihan, dan akses pasar,`` ujarnya.
Pelaunchingan ini turut dihadiri oleh perwakilan Dinas PPPA Provinsi Sulawesi Tengah, para camat se Kabupaten Sigi, Perwakilan UN Women, Ketua Yayasan KARSA Institute, Tim DP3A Kabupaten Sigi, organisasi masyarakat sipil, kelompok pemuda, dan masyarakat desa.
Kedelapan desa pelopor DRPPA Ngatabaru, Pombewe, Pesaku, Rarapadende, Wisolo, Ramba, Lonca dan Moa dipandang sebagai simbol harapan, ruang belajar, dan titik awal perubahan menuju desa yang ramah perempuan dan anak.
``Mari kita pastikan bahwa peluncuran hari ini bukan titik akhir, melainkan awal dari perubahan nyata yang melibatkan suara perempuan, anak, disabilitas, dan kelompok rentan dalam pembangunan``. tutup Susanti. (***)
Sumber : Reformer Diklat PIM Administrator dan Kabid PHP, PKA, dan PHA DP3A Kabupaten Sigi, Susanti, SKM.,M.A.P
