Di Balik Duka Kalamanta, Ada Ikhtiar Membuka Jalan
Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae. (Foto: Istimewa)
SIGI, SARARAMEDIA.ID - Peristiwa jenazah warga yang harus diangkut menggunakan sepeda motor di wilayah Pipikoro Timur, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, kembali menyoroti keterbatasan akses transportasi di daerah tersebut. Kondisi jalan yang belum dapat dilalui kendaraan roda empat menjadi persoalan yang mendesak, terutama ketika masyarakat menghadapi kebutuhan pelayanan darurat.
Menanggapi peristiwa yang beredar luas di media sosial itu, Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae menyampaikan keprihatinan dan duka cita mendalam. Ia mengakui akses jalan di wilayah Pipikoro Timur, khususnya menuju Desa Kalamanta, hingga kini masih sulit dan belum memadai.
Peristiwa tersebut mencuat melalui unggahan akun Facebook Eflinda Dewi. Dalam keterangannya, ia menyebut jenazah Benyamin Noa, mantan Kepala Desa Masewo yang menjabat selama dua periode, terpaksa diangkut menggunakan jasa ojek masyarakat setempat karena ruas jalan poros Gimpu-Kalamanta belum dapat dilalui kendaraan roda empat.
"karena jalan Pipikoro Timur poros Gimpu kalamanta Kec Pipikoro Kab Sigi yg Sampai saat ini belum bisa dilalui kendaraan Roda empat akhirnya Jenazah Alm Bpak Benyamin Noa ( mantan Kades Masewo 2 Periode) ini harus di Bonceng Pakai Ojek Masyarakat setempat.kami minta PEMKAB Sigi juga PEMPROV Sulteng menjadikan ini perhatian Khusus Apalagi dengan Adanya Prog Bpak Gubernur, Yaitu Berani Lancar yg Artinya fokus pada Infrastruktur Jalan yg Masi menyusahkan Masyarakat khusunya di pipikoro bagian Timur," Tulis postingan Eflinda Dewi melalui unggahan medsos facebook.
Unggahan itu sekaligus menyuarakan harapan agar Pemerintah Kabupaten Sigi dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memberikan perhatian khusus terhadap kondisi infrastruktur di Pipikoro Timur, termasuk melalui program BERANI Lancar yang digagas Gubernur Sulawesi Tengah.
Merespons kondisi tersebut, Bupati menegaskan bahwa pemerintah daerah telah mengupayakan pembukaan akses jalan yang menghubungkan Kalamanta dengan Seko, Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Upaya itu, menurut dia, telah menjadi bagian dari komitmen bersama Wakil Bupati Sigi, Samuel Yansen Pongi, sejak awal masa kepemimpinan mereka.
"Jika akses ini terhubung dan dibangun, mobilitas masyarakat akan jauh lebih baik, sehingga kejadian seperti ini diharapkan tidak terulang lagi," demikian penegasan Bupati Sigi dalam keterangan persnya, Kamis siang, (15/10/2026).
Untuk mendorong realisasi rencana tersebut, Pemerintah Kabupaten Sigi telah menandatangani nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) dengan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara. Pemerintah daerah juga terus mendorong agar rencana pembangunan jalur itu memperoleh dukungan pemerintah pusat, termasuk untuk memperjuangkan penetapannya sebagai jalan nasional.
Bupati turut mengapresiasi dukungan Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, khususnya Gubernur, terhadap upaya pembukaan akses tersebut. Meski demikian, ia meminta masyarakat bersabar sembari pemerintah terus mengupayakan agar rencana pembangunan dapat segera diwujudkan.
Menurut Bupati, pembukaan jalan Kalamanta-Seko tidak semata-mata berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut upaya mengurangi keterisolasian wilayah dan memperbaiki akses masyarakat terhadap layanan dasar.
Persoalan ini menjadi semakin penting ketika warga membutuhkan pertolongan dalam keadaan darurat, termasuk saat harus membawa jenazah menuju tempat pemakaman atau mengakses layanan kesehatan.
Peristiwa di Kalamanta menjadi pengingat bahwa keterhubungan jalan tidak hanya menyangkut kelancaran mobilitas dan aktivitas ekonomi, tetapi juga berkaitan dengan akses pelayanan kemanusiaan. Karena itu, percepatan penanganan infrastruktur di Pipikoro Timur menjadi harapan masyarakat yang menanti akses transportasi lebih layak dan aman. (***)
