Sarara Media
Air Irigasi Gumbasa Akan Ditutup Sebulan, Forum Petani Dorong Kebijakan Penyelamatan Tanaman
Tuesday, 11 Aug 2026 00:00 am
Sarara Media

Sarara Media

SIGI, SARARAMEDIA.ID - Rencana penghentian sementara aliran Irigasi Gumbasa selama satu bulan, mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026, memunculkan kekhawatiran di kalangan petani Kabupaten Sigi. Kebijakan yang berkaitan dengan pengaturan dan pekerjaan sistem jaringan irigasi tersebut dikhawatirkan berdampak terhadap areal persawahan yang saat ini masih berada pada fase pertumbuhan dan sangat membutuhkan pasokan air.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari lapangan, sejumlah lahan pertanian di Kecamatan Biromaru, Sigi Kota hingga sebagian wilayah Tanambulava masih memiliki tanaman padi yang berpotensi mengalami penurunan produktivitas bahkan terancam gagal panen apabila distribusi air dihentikan sepenuhnya selama masa penutupan.

Ketua Forum Petani Merah Putih, Imran Latjedi, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima laporan mengenai sedikitnya 20 hektare sawah di wilayah Biromaru yang masih membutuhkan suplai air irigasi. Kondisi serupa juga ditemukan di beberapa titik wilayah Sigi Kota dan sebagian Kecamatan Tanambulava.

Menurut Imran, situasi tersebut bukan disebabkan oleh ketidakpatuhan petani terhadap edaran maupun jadwal tanam yang telah ditetapkan pemerintah. Ia menjelaskan, pada awal musim tanam banyak petani menghadapi keterbatasan sarana dan alat pengolahan lahan yang digunakan secara bergiliran, sehingga waktu tanam tidak dapat dilakukan secara serentak.

"Faktanya, sebagian petani baru bisa mengolah lahan setelah alat tersedia. Karena itu, ada yang menanam lebih lambat dari jadwal yang direncanakan. Ini bukan karena mengabaikan aturan, tetapi lebih kepada keterbatasan sarana yang ada," ujar Imran saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin siang, (10/8/2026) waktu setempat.

Dalam perspektif petani, lanjutnya, kebutuhan akan keberlanjutan pasokan air menjadi sangat penting mengingat tanaman yang telah ditanam kini memasuki fase yang membutuhkan kecukupan irigasi. Di sisi lain, para petani juga memahami bahwa penghentian aliran air diperlukan untuk mendukung pekerjaan teknis dan pengelolaan sistem irigasi yang menjadi kewenangan pihak terkait.

Karena itu, Forum Petani Merah Putih berharap adanya ruang kebijakan yang dapat mengakomodasi kedua kepentingan tersebut, yakni keberlangsungan pekerjaan irigasi dan perlindungan terhadap hasil usaha tani masyarakat.

Imran mengaku menerima banyak aspirasi dari petani yang sebenarnya telah mengetahui adanya agenda penutupan aliran air. Namun mereka tetap memutuskan menanam karena kebutuhan ekonomi dan ketergantungan terhadap hasil panen sebagai sumber penghidupan keluarga.

"Petani memahami rencana penutupan air, tetapi mereka juga harus mempertahankan aktivitas pertanian agar tetap memiliki hasil panen untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari," katanya.

Menyikapi persoalan tersebut, mantan Wakil Ketua DPRD Kabupaten Sigi itu meminta Pemerintah Kabupaten Sigi turut memfasilitasi komunikasi dan koordinasi antara petani, pihak pengairan serta Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi guna mencari solusi yang dapat diterima semua pihak.

Ia menilai agenda penutupan air tetap dapat dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditetapkan. Namun demikian, diperlukan langkah mitigasi agar tanaman petani yang masih membutuhkan air tidak mengalami kerusakan ataupun gagal panen.

Salah satu alternatif yang diusulkan adalah penerapan pola distribusi air secara berkala selama masa penutupan. Misalnya, aliran air dibuka dalam rentang waktu tertentu, seperti setiap tujuh hingga sepuluh hari sekali, kemudian dialirkan selama satu hingga dua hari untuk memenuhi kebutuhan tanaman sebelum kembali dihentikan.

"Prinsipnya kami mendukung pekerjaan irigasi berjalan sesuai rencana. Tetapi jika memungkinkan, perlu dipertimbangkan skema khusus yang dapat membantu menyelamatkan tanaman petani tanpa mengganggu progres pekerjaan yang sedang dilaksanakan," jelasnya.

Lebih lanjut Imran menegaskan bahwa polemik penutupan irigasi tidak seharusnya berujung pada saling menyalahkan antara petani dan instansi teknis. Menurutnya, seluruh pihak memiliki tujuan yang sama, yakni menjaga keberlangsungan sektor pertanian sekaligus memastikan pekerjaan rehabilitasi maupun pengelolaan jaringan irigasi dapat berjalan optimal.

"Yang dibutuhkan saat ini bukan mencari siapa yang salah, melainkan membangun solusi bersama. Harapannya, pekerjaan irigasi tetap berjalan sesuai target dan tanaman petani juga dapat diselamatkan dari potensi kerugian". pungkasnya. (***)