
PALU, SARARAMEDIA.ID - Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital yang semakin cepat, penguatan wawasan kebangsaan menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Fenomena penyebaran hoaks, disinformasi, hingga informasi yang belum terverifikasi menjadi tantangan baru yang harus dihadapi masyarakat dengan meningkatkan literasi digital dan memperkuat pemahaman terhadap nilai-nilai kebangsaan.
Semangat tersebut menjadi salah satu fokus dalam kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang digelar di salah satu hotel, di Kota Palu, Kamis (2/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Sulawesi Tengah, Sarifuddin Sudding, dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat dari Kota Palu, Kabupaten Sigi, serta Kabupaten Donggala.
Turut mendampingi dalam kegiatan tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Sigi sekaligus Ketua DPD PAN Kabupaten Sigi, Ardiansyah, serta salah satu tokoh masyarakat Kabupaten Sigi, Nurzain Djaelangkara.
Kegiatan yang berlangsung dalam suasana dialogis itu diikuti pelajar, komunitas masyarakat adat, majelis taklim, organisasi kemasyarakatan, tokoh pemuda, dan sejumlah unsur masyarakat lainnya. Sosialisasi tersebut menjadi wadah edukasi sekaligus ruang diskusi mengenai pentingnya menjaga nilai-nilai kebangsaan di tengah dinamika perkembangan zaman.
Dalam pemaparannya, Sarifuddin Sudding menegaskan bahwa Indonesia merupakan bangsa besar yang dibangun dari keberagaman suku, etnis, agama, budaya, dan bahasa. Menurutnya, keberagaman tersebut harus dipandang sebagai kekuatan dan modal sosial yang mampu memperkokoh persatuan bangsa.
Ia menjelaskan bahwa Empat Pilar Kebangsaan yang terdiri atas Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika, harus terus ditanamkan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
"Indonesia memiliki keberagaman yang luar biasa. Perbedaan yang ada bukan untuk dipertentangkan, tetapi harus menjadi energi pemersatu dalam membangun bangsa yang kuat dan maju," ujar Sarifuddin.
Ketua DPW PAN Sulawesi Tengah itu juga menyoroti tantangan yang muncul seiring kemajuan teknologi informasi. Menurutnya, kemudahan akses informasi melalui media sosial dan berbagai platform digital memberikan manfaat besar, namun juga berpotensi menimbulkan persoalan apabila masyarakat tidak memiliki kemampuan untuk memilah dan memverifikasi informasi yang diterima.
Ia mengingatkan bahwa banyak persoalan sosial, konflik, maupun kesalahpahaman di tengah masyarakat berawal dari informasi yang belum tentu benar tetapi langsung dipercaya dan disebarluaskan tanpa proses pengecekan.
"Banyak persoalan muncul karena informasi diterima begitu saja tanpa verifikasi. Setelah itu langsung direspons dan disebarkan. Jika hal seperti ini terus terjadi, maka dapat memicu kesalahpahaman bahkan perpecahan yang tidak kita inginkan bersama," tegasnya.
Karena itu, Sarifuddin menilai penguatan nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan harus berjalan beriringan dengan peningkatan literasi digital masyarakat. Dengan berpegang teguh pada nilai Pancasila, semangat Bhinneka Tunggal Ika, komitmen terhadap UUD 1945, serta menjaga keutuhan NKRI, masyarakat diharapkan mampu menyikapi setiap informasi secara lebih bijak, objektif, dan bertanggung jawab.
Sementara itu, Ardiansyah menyambut baik pelaksanaan sosialisasi tersebut karena dinilai relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Menurutnya, tantangan era digital membutuhkan masyarakat yang tidak hanya memiliki wawasan kebangsaan yang kuat, tetapi juga kemampuan literasi digital yang memadai.
Ia menegaskan bahwa masyarakat harus semakin cerdas dalam menyaring informasi dan tidak mudah terpengaruh oleh berbagai isu yang belum jelas sumber maupun kebenarannya.
"Kegiatan seperti ini sangat penting karena memberikan penguatan nilai-nilai kebangsaan sekaligus membangun kesadaran masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menerima informasi yang beredar," ujarnya.
Melalui kegiatan Sosialisasi Empat Pilar MPR RI tersebut, para peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga diajak membangun kesadaran kolektif untuk menjaga kerukunan, toleransi, serta persatuan bangsa di tengah derasnya arus informasi digital.
Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dialog interaktif yang dimanfaatkan peserta untuk menyampaikan pandangan, pertanyaan, dan berbagai persoalan kebangsaan yang dihadapi masyarakat saat ini. Forum tersebut menjadi momentum memperkuat komitmen bersama dalam merawat kebhinekaan serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia di tengah berbagai tantangan zaman. (***)