Sarara Media
SAPA SIGI dan DRPPA Resmi Diluncurkan, Perempuan Sigi Jadi Motor Penggerak Desa
Thursday, 26 Jun 2025 00:00 am
Sarara Media

Sarara Media

KET. FOTO : (Dari kiri), Ketua TP-PKK Sigi, Dra. Hj. Siti Halwiah.,M.Si mendukung penuh inovasi SAPA SIGI bersama Reformer Diklat PIM Administrator dan Kabid PHP, PKA, dan PHA DP3A Kabupaten Sigi, Susanti, SKM.,M.A.P. (Dok/Ist)

SIGI, Sararamedia.id - Perempuan dan anak-anak kini menjadi pusat perhatian dalam pembangunan desa. Pemerintah Kabupaten Sigi resmi meluncurkan dua program penting Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak (DRPPA) serta inovasi SAPA SIGI (Sahabat Perempuan dan Anak Sigi), Kamis pagi, (26/6/2025) di Tahura Ngatabaru, Kecamatan Sigi Biromaru.

Tak hanya seremoni, program ini hadir untuk mengubah wajah desa. Delapan desa percontohan mulai dari Ngatabaru hingga Moa akan menjadi pelopor desa yang aman, adil, dan memberdayakan perempuan serta anak-anak.

Siti Halwiah, Ketua TP-PKK Sigi sekaligus pejabat Dinas P3A Sulteng, menyebut DRPPA sebagai pemantik lahirnya desa yang setara dan inklusif.

``Jangan hanya berhenti di seremoni. Ini harus jadi gerakan kolektif,`` tegasnya.

Dukungan penuh juga datang dari Pemkab Sigi. Sekda Nuim Hayat menegaskan, DRPPA adalah strategi jangka panjang untuk menghadirkan ruang aman, layanan pengaduan, hingga regulasi desa yang berpihak pada perempuan dan anak.

``Kami menargetkan pemenuhan 10 indikator utama. Semua sektor harus terlibat,`` kata Nuim.

Tak kalah penting, program SAPA SIGI menjadi kebanggaan tersendiri. Digagas oleh Reformer Susanti yang juga Kabid di Dinas P3A Sigi program ini menggali potensi lokal dengan mengandalkan kelompok perempuan desa.

``Kami memulai dari bawang goreng khas Sigi, tapi yang lebih penting adalah nilai-nilai yang tumbuh bersama: tanggung jawab, ketangguhan, dan kreativitas,`` ungkapnya.

Kerja sama dengan CARE Peduli, KARSA Institute, UN Women, dan KOICA menjadikan program ini lebih dari sekadar inovasi.

``Kami bantu kelompok perempuan dari sisi modal, pelatihan, hingga akses pasar,`` ujar Renee Picasso dari CARE Peduli.

Peluncuran ini pun disambut antusias masyarakat, camat, hingga perwakilan organisasi internasional. Delapan desa ini diharapkan jadi laboratorium perubahan sosial yang inklusif.

``Ini baru awal. Suara perempuan, anak, disabilitas, dan kelompok rentan harus terus didengar dan jadi bagian dari pembangunan``. tutup Susanti penuh semangat. (***)

Sumber: Reformer Diklat PIM Administrator dan Kabid PHP, PKA, dan PHA DP3A Kabupaten Sigi, Susanti, SKM.,M.A.P.