Sarara Media
FDL 2025, Bupati Sigi Dorong Kolaborasi demi Pariwisata Sigi
Sunday, 15 Jun 2025 16:00 pm
Sarara Media

Sarara Media

SIGI, Sararamedia.id - Bupati Sigi, Mohamad Rizal Intjenae, akhirnya angkat bicara terkait dinamika yang mencuat menjelang pelaksanaan Festival Danau Lindu (FDL) 2025, menyusul keputusan Hasan Bahasyuan Institute (HBI) yang resmi mengundurkan diri dari seluruh proses dan tanggung jawab pelaksanaan kegiatan tersebut.

Pihak HBI, melalui Zulfikar Usman beberapa waktu lalu menyampaikan pengunduran diri karena merasa tidak lagi dilibatkan secara aktif oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Sigi. Festival yang dijadwalkan berlangsung pada 3-5 Juli 2025 itu kini berada dalam sorotan publik akibat polemik internal antarpihak pelaksana.

Menanggapi hal ini, Bupati Rizal menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sigi sejak awal mendorong terwujudnya semangat kolaborasi, bukan kompetisi antarlembaga. Dirinya mengaku telah membuka ruang komunikasi secara setara kepada HBI dan Dewan Kesenian Sigi (DKS) untuk bersama-sama mengembangkan konsep festival yang berkualitas.

``Saya pikir begini, Pemda Sigi punya program strategis di sektor pariwisata sesuai visi pembangunan berbasis pertanian dan pariwisata. Saya pernah menerima HBI dan DKS dalam presentasi yang sama. Maka saya minta ayo kolaborasi, bukan bersaing,`` ujar Rizal kepada wartawan di Palu, Senin pagi, (16/6/2025) waktu setempat.

Menurut Rizal, penggabungan kekuatan ide dan jaringan dari HBI serta DKS sangat potensial menciptakan fondasi kuat dalam membangun industri pariwisata yang berkelanjutan di Kabupaten Sigi.

``Insyaallah, mimpi saya membangun industri pariwisata bisa diwujudkan bersama-sama. Ini bukan soal festival sesaat, tapi bagaimana menghadirkan dampak ekonomi dan budaya yang berkelanjutan,`` ungkapnya.

Rizal juga menyayangkan keputusan mundur HBI yang dinilainya terlalu dini dan kurang dilandasi komunikasi produktif. Ia mengaku kaget ketika menerima surat pengunduran diri tersebut.

``Saya kaget. Saya selalu tekankan kolaborasi, bukan dominasi satu pihak. Kalau masalahnya hanya karena merasa tidak dilibatkan, itu bisa dibicarakan baik-baik. Ini ranah teknis Dinas Pariwisata, tapi semua bisa selesai dengan komunikasi,`` tegasnya.

Ia bahkan menilai persoalan yang muncul lebih pada ranah psikologis dan ego personal dibandingkan substansi pembangunan pariwisata.

``Kalau semua pihak merasa konsepnya paling baik dan tidak mau melengkapi, ini yang sulit. Padahal, saya terbuka kepada siapa pun yang mau bekerja bersama demi kemajuan Sigi,`` tambahnya.

Terkait peran DKS dalam FDL 2025, Rizal memperjelas bahwa lembaga tersebut hanya berfungsi sebagai mitra kerja pemerintah, bukan pengambil keputusan utama.

``FDL ini program resmi Pemda Sigi. Kalau sudah diswastakan, itu cerita lain. Tapi saat ini, pelaksananya adalah pemerintah, dengan dukungan mitra kerja,`` ujarnya.

Lebih jauh, Rizal mengingatkan bahwa membangun destinasi wisata tidak cukup hanya dengan acara seremonial, tetapi membutuhkan proses panjang, mulai dari infrastruktur hingga kesiapan sosial budaya masyarakat lokal.

``Kita tidak bisa asal bikin festival. Homestay, UMKM, kuliner lokal, tarif harga, dan cara menyambut wisatawan semua harus dipersiapkan matang. Jangan sampai wisatawan datang, tapi pulang kecewa,`` ujarnya memberi contoh.

Ia menekankan pentingnya literasi pariwisata hingga ke level warga desa. Bahkan, ia mencontohkan bagaimana masyarakat Bali dapat menyerap nilai-nilai modern tanpa kehilangan jati diri budaya mereka.

``Masyarakat lokal harus adaptif. Karena pariwisata akan membawa perubahan. Kalau tidak siap, yang rugi ya kita sendiri,`` katanya.

Di penghujung pernyataannya, Rizal berharap konflik awal ini tidak berlarut-larut dan mengganggu semangat membangun bersama.

``Saya heran, ini baru awal tapi sudah ribut. Padahal kalau dikolaborasikan, Festival Danau Lindu bisa menjadi momen penting kebangkitan pariwisata Sigi. Jangan sia-siakan potensi yang sudah kita rintis bersama,`` tandasnya.

Rizal optimistis FDL 2025 tetap akan terlaksana dengan baik, bahkan bisa menjadi daya tarik baru bagi wisatawan Nasional maupun mancanegara.

``Saya ingin ini jadi festival yang berkelas dan berakar pada budaya lokal. Bukan hanya seremonial, tapi ada dampak ekonomi nyata bagi masyarakat. Sigi bisa jadi destinasi unggulan Sulawesi Tengah, asal kita kompak dan fokus``. pungkasnya. (***)