FNPBI Sulteng Siap Turun Aksi 21 Oktober, Desak PELNI Tetap di Pantoloan

PALU, SARARAMEDIA.ID - Kepastian layanan transportasi laut di Pelabuhan Pantoloan kembali menjadi sorotan. Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah menyatakan siap turun bersama masyarakat dalam aksi pada 21 Oktober 2026 mendatang, untuk mengawal tuntutan agar kapal PT. Pelayaran Nasional Indonesia (PELNI) tetap melayani penumpang melalui pelabuhan tersebut.

Ketua FNPBI Sulawesi Tengah, Abd. Wahyudin, menegaskan bahwa organisasinya akan kembali berdiri bersama masyarakat Pantoloan. Sikap itu, menurut dia, merupakan kelanjutan dari keterlibatan FNPBI dalam perjuangan menolak pemindahan layanan kapal PELNI dari Pantoloan ke Donggala.

FNPBI menilai persoalan tersebut belum memperoleh penyelesaian yang memberikan kepastian kepada masyarakat. Karena itu, aksi yang direncanakan pada 21 Oktober menjadi momentum untuk kembali menyampaikan aspirasi sekaligus mendesak pemerintah mengambil keputusan yang jelas.

"Kami dari FNPBI Sulteng sudah bersepakat untuk kembali mengawal dan berdiri bersama masyarakat Pantoloan. Sejak awal kami sudah terlibat dalam perjuangan ini, dan kami tidak akan meninggalkan masyarakat menghadapi persoalan ini sendirian," tegas Abd. Wahyudin.

Menurut Wahyudin, setiap kebijakan pemerintah, terutama yang berkaitan dengan pelayanan publik, perlu didasarkan pada pertimbangan yang jelas dan kondisi faktual di lapangan. Dampaknya terhadap masyarakat, termasuk akses transportasi dan kepentingan para pekerja, juga perlu menjadi bagian dari evaluasi.

Ia menilai, ketidakpastian yang berlangsung berkepanjangan berpotensi memperbesar keresahan masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah diminta memberikan penjelasan terbuka sekaligus menetapkan langkah penyelesaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

FNPBI Sulteng menegaskan, keterlibatan dalam aksi tersebut bukan sekadar solidaritas sesaat. Organisasi itu menyatakan berkomitmen mengawal aspirasi warga hingga terdapat kejelasan mengenai kebijakan pelayanan kapal PELNI di Pelabuhan Pantoloan.

"Pada 21 Oktober kami siap turun penuh bersama masyarakat. Kami ingin pemerintah segera memberikan keputusan yang jelas dan tegas bahwa kapal PELNI tetap di Pantoloan. Jangan biarkan masyarakat terus menunggu tanpa kepastian, sementara tuntutan mereka sudah berulang kali disampaikan," ujar Wahyudin di Palu, Jumat (16/10/2026).

FNPBI menekankan bahwa, perjuangan mempertahankan layanan PELNI di Pantoloan berkaitan dengan kepentingan masyarakat dalam memperoleh akses transportasi laut yang memadai. Karena itu, persoalan tersebut, menurut organisasi itu, perlu dilihat sebagai bagian dari upaya memastikan pelayanan publik berjalan sesuai kebutuhan warga.

Wahyudin juga menegaskan bahwa gerakan tersebut tidak dimaksudkan untuk mempertentangkan masyarakat Pantoloan dengan masyarakat Donggala. Fokus tuntutan, kata dia, adalah meminta pemerintah mengevaluasi kebijakan pemindahan layanan dan memberikan kepastian mengenai keberlanjutan pelayanan kapal PELNI.

Melalui aksi 21 Oktober 2026, FNPBI Sulteng bersama elemen masyarakat berharap pemerintah pusat segera mengambil langkah konkret, termasuk memperjelas kebijakan trayek kapal PELNI dan memastikan kepastian layanan penumpang di Pelabuhan Pantoloan.

"Kami akan berdiri bersama masyarakat dan mengawal perjuangan ini sampai ada kejelasan. Yang kami tuntut sederhana: kapal PELNI tetap di Pantoloan dan pemerintah memberikan keputusan resmi, bukan membiarkan persoalan ini terus berlarut-larut," tutup Wahyudin.

Hingga keputusan resmi mengenai tuntutan tersebut disampaikan, FNPBI Sulteng menyatakan akan terus mengawal aspirasi masyarakat. Aksi pada 21 Oktober diharapkan menjadi ruang penyampaian tuntutan sekaligus mendorong penyelesaian persoalan layanan transportasi laut yang berpihak pada kepentingan publik. (***)


Comment As:

Comment (0)